Minggu, 13 Oktober 2013

Buta Aksara di Keerom Antara Data dan Fakta Masyarakat


JUBI --- Maraknya pembangunan infrastruktur di Kabupaten Keerom, ternyata tidak diimbangi dengan pemberdayaan terhadap genenerasi muda potensial untuk membangun kerom, karena 5. 212 ribu penyandang buta aksara, 3.511 diantaranya berusia 15 hingga 24 tahun. Pertanyaannya Untuk Apa Pembangunan itu kalau bukan untuk Manusia.  

Kabupaten Keerom sebelum berdiri sendiri sebagai kabupaten otonom, Kerom pernah menjadi bagian dari kabupaten Jayapura. Dimekarkan pada tanggal 11 November 2002. Waris ditetapkan sebagai Ibu kota Kabupaten Kerom berdasarkan UU RI No 6 Tahun 2002. Luas 8.390 km² Penduduk, Jumlah 38.604 jiwa (2009, data stastistik BPS Kabupaten Kerom).Kepadatan 5 jiwa/km² Pembagian administratif, 7 Distrik dan 97 Kampung. Distrik Arso,Arso Timur, Senggi, Skanto, Towe hitam, Waris dan Web. Tipografi wilayah sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten dan Kota Jayapura, selatan Pegunungan Bintang, barat Kabupaten Jayapura, Timur Negara Papua New Gini. Diantara 7 Distrik di Kabupaten Kerom ditrik terjauh Towe hitam, sedangkan distrik terdekat dengan pusat Pelayanan Kabupaten yakni Arso.
Kepala bidang Pendidikan Luar Sekolah (BPS) Kabupaten Kerom, Yohanes Soge mengatakan diperkirakan tahun 2010 angka buta aksara akan menurun hingga 50 persen dari 4312 total buta aksara pada tahun 2009. “Target nasional 2014 selesai, tetapi di Kerom tahun 2012 pasti selesai,” katanya di Kerom Propinsi Papua, Sabtu (18/9).Menurutnya meski Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Kerom kurang memperhatikan Pendidikan Luar Sekolah (PLS), namun bermodalkan semangat dan dukungan warga belajar target tersebut bisa terealisasi. “Saya tidak tahu kalau ada pendidikan di luar sekolah,” kata Anna Wey warga kampung Arso kota, Distrik Arso. Pastor Paroki Senggi-Waris, Jhon Jonga mengatakan program paket belajar untuk menuntaskan buta aksara hanya menghabiskan dana dan tidak semua menyentuh warga di Kabupaten Kerom, khususnya warga asil yang ada pedalaman-pedalaman. “Bagimana bisa menarget 2012 masalah buta aksara tuntas sedangkan fakta di lapangan berbeda dengan laporan dinas pendidikan Kabupaten Kerom,” tanyanya. Menurut data laporan Dinas pendidikan dan pengajaran Kabupaten Kerom, tahun 2007 total penderita buta aksara di Kerom 7. 362, terjadi penurunan di tahun berikutnya, menjadi 6.562. Tahun 2009 kembali terjadi penurunan angka, meski tidak signifigkan, menjadi 4.312 warga belajar. Rekapitulasi data warga belajar buta aksara di Kerom pada tahun 2010, masih menunggu hasil ujian tahap II pada bulan Oktober 2010. Pelaksananan ujian tersebut membutuhkan biaya 75 juta dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Propinsi Papua.

Kemampuan membaca dan menulis dipandang sebagai kemampuan dasar minimal yang harus dimiliki oleh setiap individu, agar paling tidak memiliki peluang untuk terlibat dan berpartisipasi dalam pembangunan. Angka Melek Huruf menunjukkan persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis. Pada tahun 2007, penduduk usia 15 tahun ke atas di Kabupaten Keerom yang dapat membaca dan menulis baru sebesar 91,1 persen. Dengan kata lain, mayoritas penduduk di Kabupaten Keerom sudah dapat menikmati pendidikan dengan baik.

Pencapaian Angka Melek Huruf  tertinggi pada tahun 2007 di Provinsi Papua adalah di Kota Jayapura, yaitu sebesar 98,41 persen sedangkan angka melek huruf terendah di Provinsi Papua terdapat di Kabupaten Asmat yaitu sebesar 31,0 persen.
Meskipun angka melek huruf di Kabupaten Keerom sudah cukup tinggi, namun demikian pemerintah Kabupaten Keerom harus tetap memberikan prioritas dan pemantauan secara terus menerus akan program pemberantasan buta huruf hingga penduduk Kabupaten Keerom bebas buta huruf.
Pada tahun 2008, penduduk usia 15 tahun ke atas di Kabupaten Keerom yang dapat membaca dan menulis baru sebesar 91,1 persen. Dengan kata lain, mayoritas penduduk di Kabupaten Keerom sudah dapat menikmati pendidikan dengan baik.
Grafik 3.2. Angka Melek Huruf di Kabupaten Keerom

Pencapaian Angka Melek Huruf  tertinggi pada tahun 2008 di Provinsi Papua adalah di Kota Jayapura, yaitu sebesar 99,09 persen sedangkan angka melek huruf terendah di Provinsi Papua terdapat di Kabupaten Asmat yaitu sebesar 31,0 persen.Meskipun angka melek huruf di Kabupaten Keerom sudah cukup tinggi, namun demikian pemerintah Kabupaten Keerom harus tetap memberikan prioritas dan pemantauan secara terus menerus akan program pemberantasan buta huruf terutama di wilayah pedalaman seperti Distrik Towe, Web, Senggi, Waris dan sebagian Arso Timur karena di wilayah tersebut sangat kurang akan fasilitas pendidikan dan kurangnyanya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan seperti banyaknya anak usia sekolah yang aktivitas utamanya bekerja dan bermain saja. Faktor-faktor negatif tersebut menyebabkan masih banyak pelajar yang sekolah di tingkat kelas dua SD keatas  masih belum bisa membaca dan menulis. Dan program kejar paket A dan paket B untuk lebih di intensifkan bagi masyarakat yang sudah lewat usia sekolah tapi masih belum bisa membaca dan menulis.

Angka buta huruf di Papua mencapai 552.000. Angka tersebut berkurang, pada 2009 menjadi 230.000. Ini tentu menggembirakan. Untuk penuntasannya, pemerintah bahkan telah berencana tiap tahun akan menurunkan dana sebesar 6 miliar. Diambil dari APBD Provinsi Papua. Dari rencana ini, tahun 2014 nanti, Papua akan benar-benar bebas dari buta aksara. Namun akankah rencana tersebut bisa terwujud?Tingginya jumlah penduduk buta aksara di Indonesia diakibatkan oleh masih banyaknya siswa usia sekolah dasar (SD) yang tidak bersekolah atau tidak tertampung di SD. Direktorat Jenderal PLS (Pendidikan Luar Sekolah). PLS dalam upayanya bertekad mengurangi jumlah penduduk buta aksara hingga tahun 2009 menjadi 5 % atau 7,7 juta jiwa. Pemberantasan diprioritaskan pada penduduk usia 10 tahun ke atas yang saat ini mencapai 15,4 juta orang atau 8,57 %. Dari jumlah itu, 4,4 juta di antaranya berusia 10-44 tahun. Angka penduduk buta aksara di Papua masih tertinggi secara nasional, 16,50 persen, Papua masuk 10 besar Indonesia yang tinggi buta aksara. Tahun 2005 buta aksara di Papua nmencapai 552.000. berkurang pada 2009 menjadi 230.000. (JUBI/ Marten)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar